Pada tanggal 4 Maret 2019, bertempat di Auditorium Gedung K. H. Mas Mansur, Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (DPM FTI UII) periode baru telah dilantik. Cahya Nugraha atau yang akrab disapa Ara sebagai Ketua DPM FTI periode sekarang memberikan beberapa pendapatnya kepada kami di kantor DPM FTI UII pada 6 Maret 2019. Mari kita simak.

Apa yang melatarbelakangi anda menjadi ketua DPM FTI UII?

Jadi dulu saya pernah menjabat sebagai Sekjend (Sekretaris Jendral) kan di DPM FTI. Nah, kemudian saya melanjutkan dan alhamdullilah terpilih menjadi Ketua DPM. Alasan saya maju ke periode selanjutnya dan menjadi Ketua DPM itu karena periode kemarin terlihat banyak sekali celah. Banyak sekali celah antar lembaga, baik LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa), DPM, maupun LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) itu masih kurang harmonis hubunganya. Melihat dari diagendakannya RKKM (Rapat Koordinasi Kelembagaan Mahasiswa) itu hanya beberapa saja padahal itu wajib amanah PDKM (Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa) dan RDP (Rapat Dengar Pendapat) pun dulu hanya dua kali ya sama LPM kalau nggak salah, padahal itu harusnya per tiga bulan. Nah, hubungan itulah yang harus bisa jaga di periode ini.

Kemudian yang kedua, terkait peran fungsi lembaga masing-masing itu masih belum sesuai dengan PDKM, padahal DPM mempunyai fungsi legislasi, anggaran, budgeting atau controlling. Eksekutif itu sebagai pelaksana aspirasi dan lembaga khusus juga diatur di situ sebagai lembaga otonom yang mengatur rumahnya sendiri. Kita ingin peran fungsi itu berjalan semaksimal mungkin gitu, berjalan sesuai dengan peranya dan berjalan sesuai dengan fungsinnya. Fungsinya untuk apa? Untuk mewujudkan visi misi FTI terkhususnya mewujudkan lembaga yang optimal itu sih sebetulnya.

Tadi kan menyebutkan celah, celahnya apa saja?

Sebenarnya kalau berbicara celah kemarin terkhususnya di LEM ya, waktu verifikasi program kerja lembaga itu banyak sekali program kerja yang diverifikasi, tapi pas jalan itu hanya beberapa tok yang jalan. Misalkan kayak HMJ (Himpinan Mahasiswa Jurusan) A, dia memiliki 14 program kerja baik fungsi maupun acara, tapi yang jalan hanya sebagian saja. Itu yang harusnya periode sekarang dioptimalkan. Padahal program kerja itu untuk siapa? Untuk mahasiswa FTI. Kasaranya gini, semua mahasiswa membayar uang mahasiswa buat kelembagaan, tapi apakah mahasiswa mendapatkan impact dari program kerja yang dijalankan oleh lembaga? Mahasiswa bayar lho SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan), tapi lembaga nggak ngasih yang sesuai dengan harga yang mereka bayarkan. Itu yang harus di periode ini kita bangun. Program kerja yang diverifikasi itu harus jalan, untuk mahasiswa untuk kebutuhan mahasiswa itu yang harusnya kita bangun kembali kayak gitu.

Selain celah, di periode sebelumnya itu apakah masih ada kekurangan-kekurangan lain yang harus dibenahi?

Ada. kekuragan yang terbesar, bukan terbesar ya (tapi) yang paling fundamental itu timeline (matriks). DPM FTI UII itu pelantikan selalu terakhir, Sidang Umum selalu terakhir dari dulu. Nah, itu kita ingin mengembalikan periodesasi itu. Jadi contoh sekarang, sekarang awal masuk itu harusnya sudah jalan LEM tapi kita baru pelantikan DPM. Ya jujur bukan malu ya tapi memang itu mungkin FTI kompleks lima HMJ, sepuluh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), LPM beda sama yang kaya nggak ada HMJ kan. Nah, itu yang harus kita perbaiki di periode ini agar periode depan sudah sesuai lagi kayak dulu. Jadi harusnya November itu kelar, Desember Sidang Umum, Mubes (Musyawarah Besar), awal masuk sudah jalan bukan awal masuk baru ngurusin birokasi. Itu yang kurang maksimal periode singkat kita, cuma lelah di birokasi tok kasarannya nggak maksimal lah. Itu yang harusnya diperbaiki.

Dari berbagai kekurangan yang tadi disebutkan, untuk inisiasinya sendiri bagaimana dari mas Aranya sendiri untuk memperbaiki?

Jadi nanti pas awal verifikasi lembaga terkhususnya di LEM dulu itu nanti akan dituliskan timeline dari birokasi. Misalkan sebuah HMJ atau LEM kegiatannya itu dijelaskan kapan mereka mulai pembentukan panitia, kapan mereka waktu konsul, kapan mereka verifikasi, kapan mereka hari-H, dan kapan waktu mereka validasinya. Nah, itu sudah akan kita atur dan kita akan mengontrol per tiga bulan. Dulu RKKM tidak jalan sama sekali dan periode ini kita menginisiasikan akan dijalankan per tiga bulan dan nanti akan ada forum laporan pertanggungjawaban triwulan kepada LEM maupun RDP per triwulan kepada LK (Lembaga Khusus). Jadi sama-sama per tiga bulan nanti kita kumpul sama LEM buat menyampaikan mana yang sudah jalan mana yang belum kendalanya di mana. Sama LPM pun nanti kita seperti itu tapi kasusnya lain kan ranahnya berbeda kita menyampaikan saja bagaimana periode apa yang mau jalan apa yang belum jalan dan kendalanya seperti apa nanti kita inisiasikan bareng-bareng dari permasalahannya dicari solusinya.

Baca Juga:  Kiprah Mobil Listrik Kaliurang Unisi Generasi Ketiga

Tujuan RKKM buat apa?

Untuk menyampaikan ini amanah-amanah PDKM sebetulnya jadi dari eksekutif itu melaporkan kondisi kepengurusan dan realisasi program kerja. Apa yang sudah jalan apa yang belum mana yang terkendala susahnya dimana kita cari sama sama solusinya itu gunanya rapat koordinasi. Kalau LPM namanya RDP yaitu Rapat Dengar Pendapat nah itu beda.

Pendapat terhadap lembaga kemahasiswaan di FTI?

Jadi seperti yang disepakati di Sidang Umum itu ada kan visi FTI, “terwujudnya peran fungsi kelembagaan mahasiswa FTI optimal sebagai upaya pembentukan mahasiswa berkarakter ulil albab”. Perannya itu lembaga sebagai wadah untuk mengayomi mahasiswa, fungsinya kalau DPM tadi saya jelaskan legislasi, controlling, dan juga anggaran. Eksekutif itu pelaksana aspirasi. Nah, sejauh ini untuk peran fungsi dari lembaga kemahasiswaan itu sudah cukup baik karena memang dari kemarin periode yang kemarin saja banyak aspirasi mahasiswa yang alhamdullilah ada yang udah ditampung, ada yang dikelola dan ada yang ada beberapa terealisasikan tapi belum optimal. Nah, yang periode sekarang itu kita udah bangun berbagai aspek jadi ranahnya eksekutif seperti ini, dan ranahnya legislatif seperti ini. Kalau dulu kan nggak ada penjelasan itu yang menjadi buat bingung. Banyak aspirasi mahasiswa tapi ini kemana larinya nggak tahu. Nah, sekarang jadi setiap HMJ itu menampung aspirasinya mahasiwa masing-masing kemudian LEM juga menampung aspirasinya masing-masing. DPM juga sama nanti mengelola dan menyalurkan. Misalkan contoh simpel ada mahasiswa yang menyampaikan aspirasi atau aduan kepada lembaga, kalau itu bisa diselesaikan di ranahnya HMJ ya cukup HMJ nanti yang menyelesaikan. Kalau HMJ nggak bisa, nanti dibawa ke LEM, nanti bersama LEM yang menyelesaikan. Nah, gunanya DPM adalah menghubungkan dari pihak ke birokrat. Misalkan ini nggak selesai di ranahnya lembaga, kita bisa ke jurusan. DPM, LEM, bersama HMJ ke jurusan. Atau jurusan nggak bisa, kita ke pak Dekan. DPM nersama LEM dan HMJ kita sama-sama ke Pak Dekan untuk menyelesaikan ini. Nah, kita ingin peran fungsi tuh berjalan sesuai yang ada di PDKM seperti itu.

Kemarin di SU-F membahas visi dan misi, bagaimana dari DPM sekarang terkhusus ketua DPM untuk mewujudkannya visi dan misi tersebut?

Jadi kalau perwujudan, jadi seperti ini paling tinggi itu visi dan di bawahnya ada misi dan di bawahnya lagi ada lagi yang nggak bisa kita pungkiri yaitu adanya arah kebijakan. Nah, arah kebijakan itu ada tiga segmen. Segmen satu itu bagian a, bagian internal organisasi keislaman dan kemahasiswaan. Bagian b, itu ekternal kerjasama politik jaringan advokasi mahasiswa keluarga kemahasiswaan. Bagian c, itu administrasi dan keuangan. Itulah arah kebijakan yang akan kita keluarkan nanti terkhusus DPM ataupun ketua DPM nanti dalam membuat kebijakan itu kita ke arah kebijakan di mana arah kebijakan itu turunan dari visi misi. Jadi kalau kita ingin mewujudkan visi misi kita nyarinya dengan kebijakan atau DPM kan memiliki fungsi legislasi, produk hukum yang di situlah kita mengeluarkan produk hukum yang tujuanya untuk mewujudkan visi misi. Misalkan contohnya satu peran fungsi, bagaimana mahasiswa paham terhadap peran fungsi di forum verifikasi misalnya, nanti adanya forum edukasi kayak dulu mungkin yang ikut verif pasti tahu forum edukasi. Kita jelaskan perannya lembaga bagaimana, fungsinya bagaimana, strukturnya bagaimana, hierarkinya bagaimana nanti kita jelaskan. Kemudian nanti di akhir, ada kuesioner apakah mahasiswa udah paham terkait apa yang kita berikan, apakah mahasiswa sudah paham terkait peran fungsi apakah mahasiswa sudah paham terkait pentingnya peran fungsi baik lembaga maupun peran fungsi mahasiswa itu sendiri. Itu salah satu contohnya. Kemudian di bagian keuangan pun sama nanti ada LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) keuangan baik di ranah panitia maupun di kelembagaan akhir. Nah, itu mau kita bedah dari arah kebijakan yang transparan nanti kita berikan kuesioner disetiap kegiatannya apakah kepanitiaan sudah transparan dalam menjelaskan keuangannya? Apakah lembaga pun sama sudah transparan dalam memeberikan kinerja keuanganya? Dan nanti di FORASLAK (Forum Aspirasi dan Laporan Kinerja) pun ada. Nah nanti kita transparansikan semua baik kegiatan dan keuangan seperti itu contoh simpelnya. Jadi kebijakan kita itu nanti kearah kebijakan yang untuk mewujudkan visi misi gitu. Produk hukum kita yang akan kita keluarkan seperti itu.

Baca Juga:  Sudut Malam Boulevard UII

Untuk sekarang masalah apa yang dihadapi DPM FTI UII?

Ada, sebenernya bukan DPM aja, tapi lembaga keseluruhan. Jadi bagaimana menimbulkan minat keorganisasian mahasiswa. Di DPM dulu sebelas (anggota) sekarang tujuh, di LPM mungkin gatau lah ya kaderisasinya gimana menurun atau meningkat. Di LEM pun sama, di HMJ pun sama. Semua lembaga mungkin ini masalah besar di Lembaga di FTI terkhusus. Karena beban akademis nya yang tinggi jadi kita pakai kurikulum baru, HMJ pun udah di jurusan masing-masing pakai kurikulum ada yg 13 ada yg terbaru. Karena beban akademis nya tinggi, maka mahasiswa kemungkinan udah jarang lah yang mau ke organisasi, satu saja berat gimana mau merepresentasikan peran fungsi mahasiswa lewat organisasi. Itu yang dihadapi sekarang. Jadi masalahnya bagaimana cara menimbulkan semangat untuk berorganisasi lagi. Mungkin itu yang harus kita selesaikan.

Apakah sudah ada gambaran bagaimana cara mengatasi atau inisiasinya?

Jadi seperti ini, kemarin waktu kami PEMILWA (Pemilihan Wakil Mahasiswa) di-training legislatif di U (Universitas) dan di F (Fakultas) pak rektor Pak Fathul itu menjelaskan, SKP itu sudah disahkan itu namanya Sistem Kredit Poin, jadi mahasiswa mau lulus harus mengumpulkan poin, misalkan minimum sepuluh sebelum mereka lulus. Jadi sepuluh itu diambil dari mana? Dari kegiatan non-akademik mereka misalkan dia masuk HMJ poinnya berapa, masuk kepanitiaan poinnya berapa, masuk ke DPM poinnya berapa, tapi sampai sekarang belum ada bahasan. Itu salah satu inisiasi bagus yang dari kemarin dan sekarang mau kita wujudkan. Kalau memang belum terwujud ya mungkin dengan syarat tadi, misalkan kaderisasi bertingkat mungkin kemarin yang datang Sidang Umum paham terkait kaderisasi bertingkat di ranahnya HMJ, di ranahnya LEM, dan di ranahnya DPM nanti ada training organisasi yang tingkatannya berbeda sasarannya dan materinya juga berbeda itu tujuanya untuk menarik kader-kader kelembagaan dengan pemateri yang wow misalkan. Nah itu yang harus kita bahas. Dulu sempet mengundang Pak Mahfud tapi gak jalan sampai sekarang. Tapi periode ini harus jalan ya minimal Pak Mahfud atau pak yang lain kayak gitu, biar mahasiswa tertarik ke acaranya lembaga dan nanti tertarik ke lembagaan juga.

Training organisasi?

Jadi gini, ini masih rencana plan ya, belum dibahas di Komisi I mungkin nanti sama mas Indro Komisi I bisa. jadi HMJ nanti itu ada kaya kalau di UII LKID (Latihan Kepemimpinan Islam Dasar), LKIM (Latihan Kepemimpinan Islam Menengah), LKIL (Latihan Kepemimpinan Islam Lanjut). Nah, di kami pun mau dipakai itu jadi HMJ nanti membuat acara semacam training organisasi ranahnya untuk anggota-angotanya mahasiswa di masing-masing jurusannya. Karena mereka yang bertemu langsung ke mahasiswanya kan nanti di LEM ada namanya training organisasi tapi tingkatanya lebih tinggi. Sasaranya itu para pengurusnya ataupun mahasiswa FTI materinya juga lebih meningkat lagi yang awalnya cuma pengenalan organisasi, yang di sini pengenalan peran fungsinya. Misalkan nanti di DPM dulu ada namanya Pelwa tapi periode kemarin nggak ada, nah periode sekarang harus ada lagi Pelwa itu lebih lanjut lagi udah studi kasus “siap nggak kamu buat untuk melanjutin kelembagaan FTI?” kalau dulu ada kasusnya kaya pemerintahan presindesial maupun parlementer. Nah mungkin ini kita lagi kaji lagi apakah yang kita mau bawa di sini. Jadi kaderisasinya bertingkat-bertingkat dan harapanya ya mahasiswa tertarik dan ngelanjutin banyak maksimal ya eksekutif dan DPM. LPM pun sama, bangun sama-sama kaderisasi di FTI.

Baca Juga:  Kegiatan Komunitas di Yogyakarta untuk Meningkatkan Minat Baca

Jadi ada bekerja sama dengan pihak fakultas?

Iya, soalnya di Dekan juga ada programnya levitasi, tahu kan? Tapi kita belum koordinasi dan kerja sama, mungkin nanti bisa berkoordinasi dan bekerja sama.

Bagaimana pandangan lembaga di FTI terhadap pihak akademisi di FTI terkhusus Dekanat?

Lembaga dengan birokat. Kalau periode kemarin sudah cukup baik ya sampai sekarang. Jadi dulu ada pertemuan rutin dengan Pak Dekan ini ranahnya fakultas ya. Kalau HMJ ke jurusannya itu belum kita cari tahu lebih dalam. Contoh kasus seperti ini, kemarin waktu Makrab (Malam Keakraban) nah itu ditentang sama birokrat tapi alhamdullilah kemarin kita berhasil “bobol” dengan cara “Ayo pak!” Kita bukan menentang Pak Dekan ya, tapi “pak” kita buat peraturan bersama-sama yang nanti Makrab ini bisa jalan nanti ayo kita cari bantu penyelesaian masalahnya. Dan setelah beberapa minggu, beberapa bulan pertemuan rutin, sama Kajur (Ketua Jurusan) juga waktu itu sama pimpinan jurusan dan fakultas, alhamdullilah boleh (mengadakan) Makrab tapi ada batasannya cuma dua malam, kemudian jamnya sampai jam 21.00, (lokasinya -red) tidak boleh jauh dari sini (UII -red). Itu bentuk dari hubungan lembaga bersama birokrat sudah baik. Untuk yang sekarang dari Sekretaris Jendral DPM FTI itu sudah mengagendakan pertemuan rutin bersama birokrat untuk membahas masalah dan isu-isu mahasiswa untuk terkait kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan birokrat. Alhamdullilah sudah cukup baik untuk ranahnya DPM, LEM dan juga Pak Dekan. Tapi HMJ bersama Kajur itu yang harus kita bangun juga. Mungkin nanti LPM juga dilibatkan untuk pertemuan LK dan birokrat.

Apa yang bisa dijanjikan untuk mahahsiswa FTI untuk sekarang?

Janji, bahaya ini janji. Yang jelas lembaganya lebih baik lagi, janjinya itu. Janjinya gini aja, besok saya maupun anak-anak (para anggota -red) DPM siap kapan aja dan di mana aja untuk dihubungin mahasiswa. Misalkan ada “mas perlu advokasi”, sini ke kantor ayo kita selesaikan bersama-sama. “Mas, butuh ini yang berkaitan dengan mahasiswa lho,” ya ayo sama-sama kita cari solusinya masalahnya apa kita selesaikan kapan aja dan di mana aja. Kalau dulu, itu hampir 24 jam DPM tapi sekarang ya bisa 24 jam. Pokoknya kita janjinya memberikan pelayanan terbaik lah untuk mahasiswa.

Terakhir, kemarin ketika sambutan Ketua DPM FTI di Pelantikan, Mas Ara membacakan Sumpah Mahasiswa dengan menggebu-gebu, mengapa seperti itu dengan persona “kalem” yang sudah dibangun?

Gini, hidup mahasiswa ya. Mahasiswa itu hidup, saya yakin tapi gairah perjuannya apakah hidup? Aku lihat kalian kalian tu hidup, mahasiswa tu hidup tapi ghiroh perjuanganya belum tentu hidup. Makanya perlu disumpah kembali kayaknya mahasiswa, bukan cuma kita tok yang berenam disumpah di atas Alquran ya aku pribadi mengajak mahasiswa FTI untuk kembali lagi mendapatkan gairah perjuangan pergerakan. Sayang lho pendiri UII dari dulu peranannya seperti apa, tapi sekarang nggak dilanjutkan itulah apa yang menjadi goal Komisi II, pergerakan kolekftif profetik, politik mahaiswa FTI mau dibangun kembali pergerakan bersama-sama dengan asas-asas kenabian yang islami. Itu yang ingin dibangun, makanya dari awal periode ada kesempatan di mana lagi lah, mumpung rame banyak mahasiswa FTI yaudah kapan lagi lah? Bukan cuman kami disumpah tapi kalian lihat, tapi aku mau nyumpah kalian. Jangan ikut kami tok ya kita bersama-sama kita, itulah poinnya. Sumpah kalau dibacakan biasa mungkin kurang tergetar hatinya makanya perlu dimatikan lampunya biar redup itu juga yang dipakai FMIPA makanya kemarin saya bilang kepada Mas Hanif “Mas Hanif, saya izin buat mengutip Sumpah Mahasiswa yang dipakai di FMIPA di pelantikan FMIPA,” seperti itu.

Reportase bersama: Nuzila Putri Al-Bana

Editor: Chrisna Mahendra U.

Bagikan: