Judul novel      : Rindu

Pengarang       : Darwis Tere Liye

Penerbit           : Republika

Tahun terbit     : 2014

Tebal buku      : 544 halaman

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

***

Bercerita tentang perjalanan panjang dalam kehidupan, dengan berbagai pertanyaan yang dibungkus dalam sebuah perjalanan spiritual menuju Makkah. Setidaknya ada lima pertanyaan besar yang terjawab sepanjang cerita ini. Melibatkan lima tokoh berbeda, Bonda Upe, Daeng Andipati, Mbah Kakung, Ambo Uleng, dan ditutup oleh pertanyaan besar dari seorang ulama mahsyur bernama Gurutta Ahmad Karaeng.

Baca Juga:  Pidato Pengunduran Diri Rektor UII

Cerita dalam novel ini memiliki latar pada masa penjajahan Hindia Belanda, di sebuah kapal besar milik Belanda dengan tujuan menuju tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Alur yang mengalir membuat banyak pesan dalam cerita ini mampu kita pahami. Ditemani oleh Anna dan Elsa anak dari Daeng Andipati, membuat setiap penggal kisah dalam cerita ini lebih asyik untuk disimak.

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Buku ini kaya akan makna, pesan mendalam, serta mampu memberi kesan, namun tetap nyaman dibaca. Salah satu yang mencolok dari buku ini ialah ialah banyaknya pelajaran yang bisa diambil dengan pembawaan yang sederhana. Kelemahan novel ini terletak pada alur yang monoton ditambah dengan klimaks yang tidak terlalu terasa. Meski tebal, dalam buku ini terdapat lima kisah yang tersaji, sehingga klimaks yang ingin di diberikan mungkin tak mendetil dan terkesan terburu-buru agar bisa sampai pada kisah lainnya tanpa memakan terlalu banyak halaman.

Baca Juga:  Kapasitas Tak Memadai, Mahasiswa Parkir di Kantor Lembaga FTI

Seperti kebiasaan Tere Liye, bahasa yang dibawakan dalam novel rindu ini amat ringan, bahkan tak jarang menggunakan bahasa sehari hari, membuat pembaca seakan hidup dalam cerita. Sesekali memang disisipi dengan istilah-istilah bahasa Belanda, namun tidak begitu mengganggu, bahkan membuat pembahasaannya lebih kaya. Novel ini cocok dibaca bagi remaja hingga dewasa.

Seperti yang telah saya utarakan, novel ini kaya akan pesan dan dapat dibilang cukup bermanfaat. Ada banyak kebijaksanaan hidup yang dapat diambil dari novel ini yang bila diterapkan di masyarakat akan membuat hidup kita lebih bernilai.

 

PENULIS : NUR ABDILLAH BAGUS PRAKOSO

EDITOR : TENGKU AUNI SYAZANA

Bagikan: