Judul novel : Rantau 1 Muara

Pengarang : Ahmad Fuadi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2013

Tebal buku : 407 halaman

Buku ini merupakan buku ketiga dalam trilogi Negeri 5 Menara. Novel ini bercerita tentang kehidupan Alif Fikri dalam masa pencarian tempat ia berkarya, pencarian belahan jiwa, dan pencarian muara dari kehidupan yang ia jalani. Berasal dari kisah nyata, buku ini mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang bernama Alif Fikri dalam menempuh pendidikannya tanpa biaya.

Setelah kenyang menempuh kehidupan pesantren dengan mantra man jadda wa jada dalam ‘Negeri 5 Menara’ dan jatuh bangun selama perkuliahan dengan mantra man shabara zhafira dalam ‘Ranah 3 Warna’. Alif sekarang harus menjalani kehidupan antiklimaks berupa penyelesaian dari seluruh perjuangannya. Peluh, air mata, dan waktu – waktu yang dihabiskan dengan kerja keras akan menemukan titik akhir. Berusaha mencari, bukan lagi berupa pencarian jati diri, tapi pencarian tujuan akhir.

Baca Juga:  Legislator dan Peran Legislasinya

Alif tersadar akan kepercayaan dirinya. Sudah separuh dunia ia kelilingi, tulisannya tersebar di banyak media, dan dia diwisuda dengan nilai terbaik. Perusahaan mana yang tidak tergiur merekrutnya?

Namun Alif lulus di waktu yang salah. Akhir tahun 1990-an. Kondisi Indonesia sedang berada dalam dinamika krisis ekonomi dan diguncang reformasi. Lowongan pekerjaan sulit dicari, sampai Alif harus meminjam uang dari ATM. Media massa pun hanya  menerima sedikit tulisannya, uang untuk Amak berkurang, debt collector datang menagih hutang. Kepercayaan dirinya goyah, bagaimana dia bisa menggapai impiannya?

Tuhan memberikan kemudahan yang membuat harapan Alif kembali dengan menjadikannya wartawan di ibu kota. Di sana, ia menambatkan hatinya kepada seorang gadis yang pernah ia curigai. Lalu bagaimanakah hubungan mereka?

Baca Juga:  Dilema Sinisme Terhadap Pers Mahasiswa

Tak ada yang tahu nasib seseorang, takdir menerbangkan Alif ke Washington DC. Terjadilah tragedi 11 September 2001 di New York yang menggoyahkan jiwanya. Alif harus kehilangan kawan yang sudah dianggap kakak kandungnya sendiri.  Peristiwa tersebut membuat Alif terpaksa memikirkan ulang esensi dari misi hidupnya. Alif merenung, apakah dia harus pulang dengan hasil yang kecil, atau menetap untuk hasil yang lebih baik. Mantra yang dulu Alif dapatkan ketika berada di pesantren, akhirnya menemukan saat yang tepat untuk dibuktikan.

Novel ini merupakan bacaan bagi semua umur. Kisahnya sarat akan makna, pesan, serta kesan yang menginpisrasi, dalam menjalani kehidupan yang akan ditempuh setelah melepas zona nyaman sebagai mahasiswa. Disertai juga kutipan – kutipan syair, quote, dan kalimat motivasi yang membangkitkan semangat dan bernilai moral, membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca. Serta terdapat kisah yang menjelaskan sebuah peristiwa dengan detail, sehingga pembaca ikut terhanyut alur cerita tersebut. Pengarang juga menambahkan bumbu – bumbu perjalanan cinta, yang sepertinya menjadi andalan pengarang dalam novel ini.

Baca Juga:  Petualangan Asmara Syiana

Namun dibalik kelebihannya, ada juga kekurangan dalam novel ini. Kekurangan yang paling mencolok adalah masih ada penggunaan bahasa asing dalam cerita tersebut, padahal banyak orang yang membaca novel tersebut tidak mengerti arti dari kata atau kalimat yang disampaikan.

Penulis : Rynaldy Shulton Giffary

Editor : Tengku Auni Syazana

Bagikan: