Kamis (26/9/2019), bertempat di Tugu Pal Putih Yogyakarta telah berlangsung Aksi Diam Kamisan. Membawa payung hitam berserta spanduk dan poster berisi tuntutan, massa berdiri diam mengitari tugu. Selain perihal HAM dan keadlian, kali ini Aksi Kamisan merespon kondisi demokrasi di Indonesia. 

Seperti penolakan terhadap produk hukum yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Hal yang juga dibawa dalam aksi #GejayanMemanggil pada 30 September 2019 lalu.

Perlu diingat, Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dan beberapa rancangan undang-undang lainnya menuai respon beragam dari masyarakat. Berujung pada gelombang demonstrasi di berbagai daerah Indonesia, termasuk di Yogyakarta.

Dalam orasi Eko Prasetyo pada penghujung aksi, penulis Bergeraklah Mahasiswa!, mengatakan,“Hari ini kita semuanya berkumpul di sini untuk mengingat kebenaran yang kita perjuangkan. Ia menambahkan bahwa apa yang diperjuangkan adalah sesuatu yang mempunyai jangka panjang.

“Kita hari ini ingin mengatakan tidak pada koruptor, tidak pada kekerasan, tidak pada polisi-militerisme yang mencekam, mencengkreram kita hari ini,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti perihal tindakan represif yang dilakukan oleh negara dan aparaturnya. “Jangan hanya awasi rakyat dan jangan hanya pukuli rakyat. Kalian dibayar oleh rakyat, digaji oleh rakyat, dan wajib untuk melindungi rakyat.”

Kepada massa aksi, ia menyampaikan rasa terima kasihnya. “Kalian menunjukan solidaritas yang lama sekali hilang. Mahasiswa mengingatkan kembali apa arti perjuangan.”

Setelah orasi, massa aksi membubarkan diri dengan menyanyikan Darah Juang sebagai penutup.

Reportase bersama: Vebri Satriadi

Editor: Vebri

Bagikan: