Senin, (23/9/2019) aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di Jalan Gejayan, Yogyakarta. Aksi tersebut merupakan ajakan oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai Aliansi Rakyat Bergerak di berbagai media sosial dengan tagar #GejayanMemanggil. Ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai tuntutan kepada pemerintah dan DPR. Di samping peserta aksi yang menyuarakan keluh kesahnya, ada beberapa hal yang menarik dalam aksi tersebut, yaitu para relawan yang bergerak untuk kemanusiaan dan lingkungan.

Para relawan tergerak hatinya untuk membantu peserta aksi yang berjumlah sangat banyak. Contohnya Bagas, yang merupakan mahasiswa dari FISIPOL UGM. Ia tetap sedia berdiri di pinggir Jalan Colombo menyediakan air minum secara gratis bagi peserta aksi. “Kita melihat sisi yang berbeda dari teman-teman yang lain. Kalau yang lain mungkin menyuarakan suaranya, kita di sini melihat kebutuhan teman-teman yang aksi pasti butuh air, jadi kita disini menyediakan air, karena di sekretariat kita juga ada dua galon kosong,” ungkap Bagas. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya dan temannya berinisiatif sendiri untuk membantu menyediakan air minum bagi para peserta aksi, dan mereka menggunakan uang pribadi mereka untuk mengisi ulang galon yang mereka sediakan untuk para peserta aksi.

Baca Juga:  Ketersediaan Fasilitas Ramah Difabel di Kampus FTI

Tak kalah antusiasnya dengan peserta aksi, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK) dari Universitas Tidar Magelang juga ikut andil dalam menyediakan layanan kesehatan berupa mobil medis yang berada di pinggir Jalan Colombo. Mereka berinisiatif sendiri untuk membantu dan menampung peserta aksi yang sakit, kehausan, dan yang kelelahan. Demi kemanusiaan, mereka siap menggunakan tenaganya untuk membantu orang yang membutuhkan. Beberapa peserta yang kelelahan pun mereka bantu dengan pertolongan pertama. “Ada satu kawan dari Institut Seni Indonesia (ISI) yang pingsan karena belum sarapan. Kita ada beberapa obat sama pertolongan pertama, kemudian kita antar lagi ke hotel karena dia nginep di sana di hotel,  kemudian kita balik kesini. Lima menit kemudian ada peserta yang asma, ternyata dia dua hari sebelumnya baru opname. Jadi pertolongan pertama kami kasih oksigen, kemudian kami bawa kesini (mobil),” ungkap Hidayat, salah satu relawan medis dari HMIK. Selain menyediakan pelayanan medis, mereka juga menyediakan air minum, dan masker secara gratis. “Kami bawa minuman enam kardus (semuanya) habis, tambah dua (juga) habis, dan masker habis. Jadi kami belum mau pulang kalau belum habis,” tambah Hidayat.

Baca Juga:  Ada Apa di Balik Koreografi?

Di Jalan Gejayan, terlihat ada tiga orang yang aktif dalam memunguti sampah, mereka mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacara (UKDW) bernama Sung, Sinta, dan Samuel. Sung mengungkapkan bahwa saat demo biasanya sampah akan berserakan dan tidak diambil, dengan latar belakang seperti itu, ia dan temannya tergerak untuk memberikan kesan yang baik terhadap demo. “Ya protes boleh, tapi jangan nyampah,” celetuk Sung. Menurutnya, banyak peserta aksi yang peduli dengan sampah, dengan menyimpannya di dalam tas. Ada juga yang kurang ikut andil dalam menjaga kebersihan ketika melihat sampah yang ada di depannya. Mereka bertiga berencana mengumpulkan sampah yang mereka kumpulkan ke tempat sampah yang ada di Pasar Demangan. Sung juga berharap agar sampah plastik bisa dikurangi, karena sampah merupakan masalah yang besar bagi Indonesia.

Baca Juga:  Inovasi Konsep Pekan Taaruf (PETA) FTI 2014

Reportase Bersama: Chrisna, Noer, Vebri

Editor: Vebri

Bagikan: