Pagi ini (06/10/2019), saya terbangun, merasakan ada yang ndusel ke pipi saya ketika tertidur. Lussy ternyata, kucing saya yang beberapa hari lalu mampir ke kamar kosan saya dalam keadaan kakinya pincang, membengkak, mungkin karena berantem dengan kucing lainnya. Segera setelah mengetahui itu, saya memutuskan untuk merawatnya sementara waktu, setidaknya hingga kakinya sembuh. Saya paham mengapa Lussy ndusel ke pipi saya pagi ini, kelaparan, meminta makan. Beberapa menit kemudian, setelah “mengumpulkan nyawa”, saya bergegas mengambil bekas tempat makan kemarin, menggantinya dengan wadah baru dan mengisinya dengan makanan untuk anak kucing. 

Memang, pada hari Minggu ini, saya berniat untuk pergi ke kantor organisasi saya di kampus saya (FTI UII), sekedar bersantai dan membaca buku koleksi. Saya ambil sepeda motor di kosan saya, menarik gas sepeda motor sehingga menghasilkan suara aneh yang khas (menurut kawan baik saya) karena knalpotnya berlubang. Malas saya menggantinya dengan yang baru, belum ada uang.

Sampai lah saya di sekretariat tersebut, dan berjalan menuju ke dalam. MasyaAllah, betapa “bersihnya” komplek sekretariat ini. Daun kering dan sampah-sampah tergeletak di lantai dan halaman serta sampah di tempat sampah yang belum dibuang ke tempat pengumpulan sampah di teras komplek sekretariat. Di Yogyakarta memang sedang kemarau, sudah berbulan-bulan tidak turun hujan. Itulah sebabnya banyak daun kering berjatuhan. Masuk ke kantor sejenak, saya pun menaruh tas yang berisi laptop dan beberapa buku saya. Langsung saya mengambil sapu lidi terdekat dan menyapu teras kantor organisasi saya dan sekretariat bersama. Sengaja memang saya berniat hanya menyapu daerah itu dan membiarkan teras sekretariat lain dikerumuni sampah daun kering. Tujuannya satu, supaya mereka tergerak untuk membersihkan teras sekretariatnya sendiri dengan membandingkan daerah yang sudah bersih dengan daerah yang kotor (teras sekretariat mereka).

“Rajin betul, bang,” sapa kawan saya, pengurus salah satu himpunan ketika saya menyapu halaman sekretariat organisasi yang menaungi saya.

“Weh jelas.”

“Sekalian lah bersihin (teras sekretariatnya),”

Sejenak melihat terasnya yang sudah bersih, saya menjawab. “Ogah, bersihin sendiri, enak aje lu.”

Tertawa kami bersama-sama.

Kembali saya memasuki kantor organisasi saya, langsung mengambil buku “#narasi” yang diterbitkan oleh Penerbit Pindai di tempat koleksi buku, dan membacanya sejenak. Membuka bagian “(Bukan) Negeri Singkong” yang ditulis Zen RS. Menarik sekali untuk dibaca karena pada bagian itu, ia bercerita mengenai singkong yang merupakan salah satu makanan pokok, dianggap rendah dan semakin tergerus produksinya. Kalah populer dibanding nasi. Yah, masalah kedaulatan pangan dan variasi makanan pokok memang suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan. Setidaknya itu menurut saya.

Selesai membaca buku itu, perut saya berbunyi cukup keras, tanda kelaparan. “Apakah ini karena saya membaca mengenai pangan, ya?” pikir saya. Segera setelah itu, saya memberi batas halaman pada buku, menutupnya, dan keluar kantor untuk mencari makan. Tapi, tunggu dulu. Sebelum berangkat mencari makan, saya melihat kerumunan keluar dari suatu sekretariat yang lokasinya di pojok komplek. Sedang ada istirahat dari suatu forum, saya pikir. Kepala saya mencoba berpikir positif, “mungkin mereka akan tergerak hatinya untuk membersihkan teras sekretariat mereka.” Saya pun meninggalkan kantor organisasi saya dengan pikiran positif seperti itu.

Singkat cerita, sekembalinya saya mencari makan dan membeli kopi, pikiran positif saya kandas begitu saja melihat bagian halaman kantor yang masih kotor (kecuali bagian yang sudah saya bersihkan dan teras suatu himpunan). Saya abaikan lah sampah-sampah itu. Hanya fokus ke kebersihan kantor organisasi saya. Kemudian masuk ke kantor saya, berniat melanjutkan membaca buku yang tadi saya baca sambil meminum kopi botolan yang telah saya beli.

“Bang, serokan mana, ya?” ucap rekan saya yang tadi menyapa.

“Gak tahu aku, tadi kucari-cari nggak ada.”

Sambil menjawab pertanyaannya, saya pun mencoba mencari serokan untuk membersihkan gorong-gorong tempat mengalirnya air. Menumpuk sekali sampahnya kala itu. Seluruh isi komplek sekretariat tidak ada satupun yang menyimpan serokan. Kami pun mencoba mencarinya ke kantin, sebelah komplek sekretariat. Benar saja, kami mendapatkan serokan dan sapu lidi tambahan.

Awalnya, saya hanya membersihkan gorong-gorong dan halaman depan kantor organisasi saya. Semakin lama, saya membatin “Persetan!, sapu aja sekalian semuanya, nanggung.” Berdua bersama rekan saya yang mencari serokan tadi, kami bersama-sama membersihkan halaman dalam komplek sekretariat FTI UII. 

Pada saat kami membersihkan, keadaan di komplek itu ramai di suatu sekretariat, melanjutkan forum yang tadi ditunda untuk istirahat, satu sekretariat terbuka dengan beberapa orang bermain kartu, dan satu sekretariat setengah terbuka yang saya tidak mengerti apa yang dilakukan orang-orang di dalamnya. Mungkin ngobrol dan tertidur. Di sebelah sana, terdengar bunyi-bunyi musik yang menggema hingga ke komplek sekretariat. Saya abaikan itu semua dan fokus membersihkan halaman kantor.

“Gerah betul eh, bang.”

“Iya eh. Lah, wong yang bersihin (halaman) cuma KITA BERDUA, TAPI YANG MAKE SEKANTOR,” sengaja saya meninggikan suara saya pada bagian yang dikapitalkan. Memancing yang di dalam sekretariat untuk keluar dan membersihkan halaman sekretariat bersama-sama.

Tapi, keadaan berkata lain. Mereka tidak bergeming. Asik dengan kesibukannya masing-masing. “Ahh, mungkin suara saya kurang keras, sehingga mereka tidak mendengar,” saya memaksa otak saya untuk berpikir positif.

Di tengah-tengah membersihkan itu pula, masuk dua orang wanita berkerudung, dengan baju yang sama persis, salah dua panitia acara di sebelah sana. Entahlah, apakah mereka melihat kami membersihkan atau tidak, tapi mereka hanya membuka pintu sekretariatnya, dan masuk entah untuk urusan apa, kemudian keluar lagi meninggalkan kami yang sedang membersihkan halaman. Hanya senyum dan mengelap keringat hampir menetes yang bisa lakukan ketika itu. “Sialan, penganut sistem Student Government tai palat, klise, hanya mau menerima hak, tapi tidak melakukan kewajiban,” batin saya.

Pikir saya sambil membersihkan halaman, bahwa kami berada di kampus bernuansa Islam yang sangat kental. Sepengetahuan saya, Islam menyukai hal-hal yang bersih nan indah. Seharusnya pemeluknya harus menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar, tidak mengabaikannya. Komplek sekretariat yang seharusnya menjadi otoritas pengurus lembaga yang independen (atau memang sudah jadi jongosnya kampus?) memang tidak seharusnya dicampuri urusan kampus. Memang, ada pihak kampus yang membersihkan halaman kantor lembaga, tapi hanya bagian luar, bukan bagian dalam. Seharusnya para pengurus lembaga lah yang membersihkan sendiri halaman sekretariat yang mereka gunakan untuk menunjang kegiatan organisasi mereka. Kantor bersama kok yang membersihkan segelintir orang?

Segera kami selesaikan kegiatan kerja bakti berdua itu. Membiarkan sampah daun kering di teras halaman beberapa sekretariat lembaga dan masuk kembali ke dalam kantor organisasi saya. Membuka tutup botol kopi saya dan membuka halaman buku yang telah saya tandai sebelumnya dan membacanya.

Menjelang magrib, saya sudahi kegiatan membaca buku saya dan melihat halaman, tidak ada sehelai daun pun yang bergerak semenjak terakhir kali saya membiarkannya.

“HALAH!!!”, keluh saya sembari meninggalkan komplek sekretariat dan menuju kosan.

***

Baca Juga:  REPLICAS : Membangkitkan Keluarga yang Telah Tiada

Untuk pihak-pihak yang selama ini menjaga kebersihan kantor lembaga, terima kasih banyak. Teruskan kegiatan positif yang nyata itu, bukan kegiatan yang sok positif dengan dalih hanya memenuhi tuntutan proker.

Bagikan: