Sebelumnya, saya ingin bertanya, pembaca sekalian apakah sudah mengenal baik wakil-wakil mahasiswa kita atau yang biasa disebut Dewan Permusyawaratan Mahasiswa UII (DPM UII) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPM F)? Rekam jejak, kepribadian, riwayat organisasi? Atau malah kalian baru tahu perbedaan kepanjangan DPM U dan DPM F? Hihihi. Simpan jawaban kalian di akhir tulisan ini, dan akan saya jabarkan opini saya.

Entah saya yang merasa atau bagaimana, saya tidak paham bagaimana konsep Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa), mungkin dari tahun ke tahun. Jarang terbaca/terdengar oleh saya visi-misi yang mereka bawakan, program seperti apa yang mereka tawarkan, atau perbaikan apa yang akan mereka lakukan.

Visi-misi? Disebarkan ala kadarnya. Sekedar lewat media sosial dan beberapa acara mimbar terbuka. Hanya itu. Kalaupun ada yang lain, mungkin saya yang tidak menjangkaunya karena kurangnya publikasi dari lembaga penyelenggara Pemilwa yang terhormat. Maklumlah, saya hanya seorang mahasiswa tua yang berjuang dengan skripsinya. Lucunya lagi, hampir semua visi-misi calon “wakil” punya karakteristik yang sama. Ada tiga kata kunci; optimalisasi, lembaga, dan peran. Ada yang mengingat visi dan misi masing wakil mahasiswa kalian? Atau saya balik deh pertanyaannya, adakah wakil mahasiswa terpilih yang mengingat visi dan misinya?

Baca Juga:  Kemana Panitia?

Padahal, visi dan misi dari calon “wakil” penting untuk diingat oleh mahasiswa maupun yang membuatnya. Setidaknya, visi-misi menjadi patokan awal untuk lebih mengenal dan melihat arah kerjanya untuk ke depan. Apa gunanya membuat dan mempublikasikan visi dan misi kemudian tidak dibaca dan diingat oleh pemilih bahkan pembuatnya? Proses seperti ini saya pandang hanya sebagai formalitas demi melengkapi tetek bengek jalannya Pemilwa. Lebih baik langsung diadakan voting, jebret, wakil mahasiswa pun didapat.

Tidak kalah dari visi dan misi, rekam jejak maupun kepribadian apakah pembaca sudah tahu? Terlepas apakah yang mencalonkan merupakan kerabat dari pembaca. Saya yakin sebagian besar menjawab tidak. Mungkin ini hanya spekulasi saya, tetapi itulah yang saya tangkap selama ini. Saya pribadi, hanya mengenal sedikit dari mereka. Di ruang lingkup universitas, yang saya tahu hanya tiga orang, itupun hanya bertemu di beberapa forum, saling menyapa pun tidak. Calon “wakil” di ruang lingkup FTI saya lebih kenal. Beberapa dari mereka saya kenal di beberapa forum dan tergabung dalam suatu tim. Beberapa kali juga bertemu di komplek sekretariat FTI. Hanya itu? Iya. Bagaimana calon pemilih mau memilih kalau mereka tidak mengenal?

Baca Juga:  Bungkam untuk Citra UII

Rekam jejak mereka pun tidak disebutkan. Masing-masing calon memiliki pengalaman yang seperti apa? Organisasi mana saja yang tempat ia bernaung? Apa yang telah ia lakukan di kampus? Semua itu tidak disebutkan, atau mungkin kurang transparansi? Lalu mereka membangga-banggakan demokrasi yang ada di UII dengan semua ketertutupan. Ironis sekali rasanya. Kalau mereka menuntut kita semua mencari tahu sendiri sih, keterlaluan memang. Ada yang salah di kepala para “eksekutif” kita yang mulia itu. Apa sih yang sebenarnya ditakutkan ketika rekam jejak mereka jabarkan? Tidak percaya diri? Atau takut ada sentimen negatif lain?

Kalau sudah begitu keadaannya, saya tidak mengherankan partisipasi Pemilwa sangat minim. Bayangkan, dari berapa ribu mahasiswa yang ada, partisipan Pemilwa hanya sebagian kecil, malah tidak sampai setengah. Mari kita lihat beberapa hasil pemungutan suara. Di lingkup universitas, total suara yang didapatkan sebanyak 4158 suara dengan 3781 suara yang sah dan 377 suara yang tidak sah (sekitar 10% dari total). Di lingkup FTI sendiri, suara yang didapatkan sebanyak 838 suara dengan komposisi 800 suara sah dan 38 suara tidak sah. Dapat dilihat, bahkan komposisi suara tidak sah pun cukup banyak. Imbasnya pun kemana-mana, salah satunya atmosfer dan minat berlembaga pun melesu. Ada yang menyadarinya? Bahkan, salah satu fakultas tidak memiliki wakil mahasiswa di periode ini.

Baca Juga:  Saya Indonesia atau Indonesia untuk Saya

Lebih jauh lagi, apa yang mereka bawakan pun masih belum terlalu jelas bagi saya. Hanya sebatas visi dan misi saja. Pernahkah para pembaca sekalian ingin tahu apa yang ingin dibawakan para wakil mahasiswa itu? Apa terobosan atau program kerjanya? Ingin memperbaiki apa di periode berikutnya? Tidak pernah? Mereka sebenarnya tahu keluhan atau tidak sih dari mahasiswa? Atau sekadar bertanya apa yang seharusnya diperbaiki. Selama menjadi mahasiswa di UII, tidak pernah ada saya membaca ataupun mendengar para calon wakil mahasiswa menawarkan penyerapan keluhan maupun aspirasi. Setidaknya, berkampanye lah, serap semua keluhan dari mahasiswa dan jadikan program untuk “dijual” agar terpilih. Kampanye itu perlu loh, setidaknya memperkenalkan diri kalian ke audiensi. Urusan dicap sok baik, pencitraan, atau hal negatif lainnya bisa disingkirkan terlebih dahulu. Setidaknya, dengan begitu para wakil mahasiswa bisa menunjukkan keseriusannya untuk menjadi wakil mahasiswa seluruh kalangan, bukan suatu kelompok.

Jadi, mereka semua mewakili diri untuk siapa? Ups, atau lebih tepatnya untuk kelompok yang mana?

Sekian.

Bagikan: