Pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19, inti dari kebijakan tersebut agar kita dirumah saja, ironisnya saat kebijakan tersebut diberlakukan banyak sekali  yang terkena dampaknya. Pemberlakuan WFH (Work From Home) rupanya memberikan dampak yang besar bagi sebagian profesi. Bagaimana dengan pekerja buruh yang setiap harinya identik dengan target ataupun Quantity (jumlah barang atau banyaknya barang)? Bukan hanya buruh, mungkin berbagai jenis profesi lain juga merasakan dampaknya.

Allah pernah menguji Sulaiman AS dengan sebuah ujian yang berat, yaitu dengan sebuah penyakit. Diriwayatkan bahwa penyakit itu membuatnya sangat lemah hanya tergeletak tak bisa beraktivitas. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran Q.S Shaad ayat 34-35.

“Dan sesungguhnya kami telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”. Dalam kisah Nabi Sulaiman AS mengajarkan kita untuk sabar dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Dalam menghadapi ujian-Nya, Sulaiman AS mengajarkan kita untuk senantiasa meminta ampun kepada-Nya karena bisa jadi dosa-dosa kitalah yang menjadi penyebab ujian tersebut.

Baca Juga:  Hari Itu Hari Buruh

Puasa identik dengan menahan diri, substansinya yaitu sabar. Sabar secara Bahasa berarti al habsu yaitu menahan diri. Sebagian ulama membagi sabar dalam 3 kategori  yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menghadapi musibah-musibah hidup. Nabi Ayub AS digelari “Ni’mal ‘abdu” (hamba yang terbaik) karena kesabaran-kesabarannya dalam menghadapi semua tantangan hidupnya. Dari musibah-musibah hingga ke godaan-godaan dunia dilalui dengan jiwa yang tegar penuh kesabaran.

Di kala wabah virus corona menjangkiti dunia dan juga Indonesia saat ini, kita perlu mengambil pelajaran dan hikmah dari sejarah masa lalu. Dahulu, di era Rasulullah SAW terdapat wabah penyakit menjangkiti Madinah. Dalam buku Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam karya Abdussalam Muhammad Harun (2016). Kisah itu diriwayatkan oleh Aisyiyah Rhadiyallahu Anha, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, dimana saat itu disana terdapat wabah penyakit demam. Banyak dari sahabat Rasulullah SAW yang terkena wabah. Namun Allah SWT menghindarkan Rasul-Nya dari penyakit itu. Pernah juga terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan serta belum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW sebagai Khalifah Fil Ardhi (seorang khalifah di bumi) memerintahkan untuk tidak berada dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadist berikut ini:

Baca Juga:  Resensi Buku “Pendidikan Kaum Tertindas”

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)”. Jika umat muslim menghadapinya , dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”. (HR Bukhari).

Rasulullah sudah menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Menjaga Kesehatan salah satunya dengan berpuasa. “Berpuasalah kamu supaya sehat tubuhmu” (HR Bukhari). Pengertian puasa tidak hanya menahan haus dan lapar, mengawali Ramadhan dengan semangat penghormatan niscaya menjadi awal dari semangat introspeksi menyeluruh, yaitu bermuhasabah dalam konteks hubungan vertikal (Hablum Minallah) maupun hubungan horizontal (Hablum Minannas), sebab puasa juga mengandung makna pembentukan karakter, pengendalian hawa nafsu dan tentunya untuk perubahan nasib bangsa ditengah pandemi corona agar cepat pulih dan kembali normal. Untuk itu bagi yang tidak berkepentingan untuk keluar rumah, mari kita berpuasa (menahan diri) dan ikut serta memutus rantai penyebaran virus Covid-19 dengan dirumah saja.

Baca Juga:  TOLAK SAJA ITU

Semoga dalam datangnya bulan suci Ramadhan nanti pandemi ini cepat berakhir. Yang sakit segera diangkat penyakitnya dan yang sehat dapat kembali beraktivitas seperti semula. Saya ucapkan terima kasih untuk semua dokter, perawat, dan tenaga medis yang ada digaris terdepan dalam penanganan pandemi ini. Tetap ikuti aturan dan berpuasa (menahan diri) untuk mencapai kemenangan yang hakiki serta saling membantu sesama saudara yang membutuhkan.

Kita yakin bisa melewati semua ini, tidak hanya petugas medis tapi semua yang terkena dampak virus Covid-19 ini. Tetap jaga hidup bersih dan sehat, sering mencuci tangan, menjaga jarak, dan tetap dirumah.

Penulis adalah bagian dari Advokasi Komonukasi Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama.

Bagikan: