Judul novel: Megamendung Kembar

Pengarang: Retni SB

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2016

Tebal buku: 360 halaman

“Ketika cinta dan luka dirahasiakan oleh bibir, maka batik mampu menyuarakannya…”

Megamendung warna merah yang tersimpan di lemari itu adalah hasil dialog antara jiwa dan jemari Sinur dengan canting, malam, kain primisima, bara tungku, dan akar mengkudu. Memuat kisah rahasia tentang cinta terlarang, luka, perjuangan, sekaligus kepasrahan. Niat Sinur, rahasia lebih dari setengah abad itu akan dibawanya sampai mati.

Namun, Awie bukan cucu yang rela membiarkan kisah masa lalu yang tak tuntas itu menjadi rahasia selamanya. Apalagi ketika dia tahu ada batik serupa yang diperlakukan sebagai benda keramat di tempat lain…

Yang membuat Awie bimbang, apakah mengungkap kisah Megamendung kembar itu akan memulihkan sebuah hubungan, atau justru merusak harmoni?

Retni SB merupakan penulis asal Cirebon yang suka buku, film romantis, kopi, kuliner tradisional, warna dan bau cat, seni kriya, jalan-jalan, dan daun-daunan.  Sejak SD, dari bacaannya ia kemudian tertarik untuk menulis. Dimulai dari tahun 1985 dan terus berlanjut hingga sekarang. Sempat tidak menekuni karena kesibukan bekerja dan mengurus anak, kini ia mulai rutin menulis setiap harinya. Maka tak heran jika bukunya sudah beberapa kali terpajang di toko buku khususnya Gramedia.

Baca Juga:  Dilema Sinisme Terhadap Pers Mahasiswa

Megamendung kembar. Nama yang identik dengan batik khas Jawa Barat itu mungkin dipilih penulis karena Retni sendiri berasal dari Cirebon. Berkisah tentang cerita kehidupan yang dikemas halus oleh kebudayaan batik itu sendiri. Proses pembuatan batik juga sedikit dijelaskan dalam novel ini. Mulai dari membuat pola, ngerengreng, ngeblok, ngisen, ngulen, ngobat dan nglorod.

Novel yang memiliki alur campuran ini berkisah tentang cucu kesayangan seorang pembatik yaitu Awie. Awie yang mulanya bekerja di ibu kota, akhirnya memilih untuk menemani neneknya, Embah, yang sudah tua di desa. Ia merasa malu jika yang biasa menamani Embah justru mbak Tum, orang dari desa sebelah yang tidak ada hubungan darah. Karena Awie pernah tinggal bersama Embah sejak ia lahir hingga beberapa tahun hal itu membuat ia menjadi lebih dekat dengan Embah dibandingkan saudaranya yang lain. Kedatangannya ke desa Embah tinggal disambut dengan baik, bahkan beberapa tetangga yang mengenalnya dulupun masih hangat menyapanya.

Baca Juga:  Reach Your Dream: Yakinlah Bersama Allah Jalan Selalu Ada

Awie yang kerap menggunakan pakaian batik di Jakarta sering diremehkan Embah, karena Embah jarang melihat ia menggunakannya ketika di desa. Sebenarnya sudah lama ia ingin belajar membatik dari Embah, rupanya baru sekarang ia akan memulainya. Berawal dari melihat-lihat peratan membatik di ruang belakang rumah Embah, ia memutuskan untuk mulai bertanya-tanya tentang batik ke Embah. Saat melihat beberapa koleksi batik di lemari yang disusun rapi, ia melihat kain motif megamendung buatan Embah. Namun, Embah enggan memperlihatkannya kepada Awie. Sempat Awie melihat Embah meneteskan air mata saat memegang kain tersebut.

Tak cukup pengetahuan jika hanya bertanya ke Embah, Awie memutuskan untuk berjalan keliling hingga ke desa sebelah yang juga masih tempat sentra batik. Dimasukinya salah satu showroom yang menarik hatinya. Batik yang ditawarkan showroom ini memang cukup menarik. Namun, ada yang lebih menarik yaitu batik yang dipajang. Batik tersebut diperlakukan seperti benda keramat, dilindungi kaca dan tulisan tidak untuk dijual terpampang. Batik ini mirip dengan batik milik Embah yang sempat membuat Embah menitikkan air mata. Batik megamendung dengan sembilan gradasi warna yang menyalahi pakemnya.

Baca Juga:  RINDU : Makna Akan Sebuah Perjalanan

Batik dengan motif yang mirip biasanya terdapat pada batik cap atau batik printing yang memang didesain untuk pesanan masal. Berbeda dengan batik tulis yang memiliki ciri khas sendiri di setiap motif dan pewarnaannya. Rasa penasaran Awie yang tak dapat diawab Embah, mendorong ia untuk mengulik kisah di balik batik megamendung melalui showroom itu. Terlebih pembuatnya masih hidup, yaitu kakek si pemilik showroom.

Novel ini cocok dibaca oleh semua kalangan dan umur. Novel ini dibawakan dengan bahasa yang ringan dengan campuran bahasa daerah. Ditemukan beberapa catatan kaki yang memberi keterangan beberapa bahasa daerah yang mampu membantu pembaca memahami alur cerita ini. Namun, terkadang membuat pembaca sedikit terganggu karena harus membaca catatan kaki. Meskipun dengan alur campuran, novel ini tidak akan membuat pembaca merasa bosan. Kepandaian penulis dalam merangkai kata-kata mampu menyentuh hati pembacanya. Novel ini menggunakan ukuran kertas dan jenis kertas yang sama seperti novel pada umumnya.

Penulis: Rahma Fariza

Editor: Rynaldy Shulton

Bagikan: