Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia 2020 dilakukan secara daring mengalami kendala yang tak biasa terjadi. Terlepas dari kendala yang ada, pelaksanaan acara secara daring dinilai lebih mudah dibandingkan dengan acara yang dilaksanakan secara luring.

Pesona Ta’aruf atau akrab disebut PESTA yang merupakan serangkaian orientasi untuk menyambut mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia dilaksanakan dengan cara yang tak biasa pada tahun ini. Pandemi covid-19 memaksa acara tahunan ini dilaksanakan secara daring. PESTA 2020 mengusung tema “Mahasiswa UII Generasi Insan Ulil Albab sebagai Pondasi Tatanan Baru”. Menurut Akbar Daffa selaku Ketua Steering Committee (SC), PESTA tahun 2020 dimaksudkan untuk merepresentasikan prinsip desain skenario UII Tatanan Baru sebagaimana yang telah dirilis oleh rektor juni lalu.

PESTA 2020 dilaksanakan pada tanggal 9, 10, 11, 12, dan 13 September 2020. Sekitar 4 bulan untuk mempersiapkan acara PESTA tahun ini. Tentu dalam persiapannya ditemukan banyak kendala, karena tata cara pelaksanaan acara yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bagi Akbar Daffa selaku Ketua SC PESTA 2020, perbedaan tersebut memberikan tantangan bagi panitia untuk menemukan konsep yang baru dan tidak sekedar mengubah acara yang seharusnya dilaksanakan secara offline. “Saya benar-benar membuat konsep yang sangat baru. Nah, mencoba untuk memberikan sebuah inovasi dari desain-desain yang ada. Jadi, saya sempat cari referensi dan segala macam tentang event-event online,” jelas Akbar Daffa selaku Ketua SC PESTA 2020.

Salah satu rangkaian acara yang terdapat pada PESTA 2020 ialah eksposisi Lembaga Internal Kampus dan UKM yang terdapat di Universitas Islam Indonesia. Eksposisi tersebut dimaksudkan sebagai sarana promosi lembaga internal kampus dan UKM. Tidak seperti tahun lalu, interaksi antara maba dengan lembaga internal kampus dan UKM sangatlah minim. Informasi-informasi terkait UKM disediakan dengan menerbitkan booklet UKM kepada maba, sedangkan untuk interaksi secara mendalam maba dan miba dipersilahkan untuk menghubungi media sosial dari UKM-UKM terkait. “Pengenalan lembaga internal kampus dan UKM ini dirasa kurang efektif dengan kondisi seperti ini terlebih kondisi UKM yang ketika kita ajak untuk bantu apa ya bikin konten gitu mereka banyak kendala,” ujar Akbar Daffa. Salah satu mahasiswi baru pun menambahkan bahwa pengenalan lembaga dan UKM belum begitu mendalam. “Iya baru gambaran secara umum aja sih mbak,” jelas Sekar Arum, mahasiswi baru jamaah 82, Teknik Sipil.

Baca Juga:  Babak Baru Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika

Ketika berbicara tentang daring, terdapat permasalahan yang sangat lumrah terjadi, yaitu terkait ketidakstabilan sinyal jaringan dan sangat menguras kuota internet. Menurut M.Rafly Triyadi, mahasiswa baru Fakultas Hukum yang biasa disapa Rafly ini, acara yang terdapat pada PESTA sudah menarik akan tetapi terdapat kendala ketika pemutaran video yang terputus-putus karena jaringan yang tidak stabil dan menyebabkan kurang pahamnya Rafly terhadap video yang disampaikan, “Itu sinyalnya kadang-kadang bagus kadang-kadang enggak. Jadi patah-patah kan dan juga video nya patah-patah itu sih kayak kurang menikmati video yang diberikan.” Dalam pelaksanaan acara, dari pihak panitia dirasa lebih mudah untuk diatur. “Memang kalau untuk online sendiri pengkondisian pesertanya itu kan saya kira lebih gampang, karena kita menyebarkan link, kemudian dari temen-temen maba miba tinggal klik aja gitu kan. Kemudian dari pemateri kan ada yang tapping dan juga ada yang live,” ungkap Raditya Adhyaksa selaku Ketua Organizing Committee (OC) PESTA 2020 menambahkan. Terlebih dari pihak panitia sendiri tidak menyediakan kuota internet bagi peserta PESTA. Menurut Akbar Daffa kondisi tidak memungkinkan untuk membagikan kuota internet kepada seluruh peserta. “Kita rencana awal tu ada untuk berbagi kuota kepada mahasiswa baru tapi setelah kita pikir secara teknis dan segala macam, ketika kita lihat bahwa penutupan pendaftaran peserta tanggal 24, gak mungkin juga kalo kita bakal terus update ke vendor masalah transfer pulsa gitu,” imbuhnya.

Baca Juga:  UII International Day 2018, Wadah Ta’aruf Mahasiswa Lokal dan Internasional

Terkait pelaksanaan acara Pesona Ta’aruf yang dilakukan secara online maka ada perbedaan waktu dalam pelaksanaan salat bagi mahasiswa baru di Wilayah Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Untuk mengatasi hal tersebut, dari kepanitiaan memberikan izin untuk meninggalkan lokasi zoom, dan untuk mengatasi perbedaan waktu dalam pelaksanaan shalat seperti yang disampaikan oleh Ketua OC, M. Raditya Adhyaksa. “Terkait waktu pelaksanaan shalat mbak, nah itu  kita mematok waktu shalat itu di waktu wilayah Indonesia barat (WIB). Nah ntar, kalo semisal temen-temen dari waktu Indonesia tengah dan timur sudah melaksanakan dan sudah menjelang salat, mereka dipersilahkan untuk shalat, karena apa yang sudah disampaikan kita tadi. Bahwasannya, itu terkait pemateri-pemateri akan diupload ke youtube dan dapat ditonton kembali.” Dengan adanya sistem pengunggahan materi selama Pesona Ta’aruf ke youtube, maka akan menjadi solusi bagi temen-temen maba yang terkendala terkait perbedaan waktu salat, maupun sinyal jaringan yang tidak stabil.

Adanya miss informasi, merupakan suatu bentuk masalah lainnya yang hadir pada pelaksanaan PESTA tahun ini. Hal seperti itu terjadi, baik antar panitia maupun mahasiswa baru. Segala bentuk komunikasi dipaksa untuk dilakukan secara online, membuat komunikasi yang dilakukan panitia terkadang dirasa tidak efektif. Ketua LEM, Pancar Setiabudi menjelaskan bahwa harus ada semacam bentuk kolaborasi dan kerja sama antar lembaga sehingga persoalan-persoalan yangdatang dapat diatasi. “Yang menjadi alasan untuk saling berkolektif adalah kita tidak mampu mengimplementasi hal-hal yang dilakukan secara online. Karena persoalan pandemik dilematis, yang tiba-tiba datang tanpa kita selaku mahasiswa atau manusia belum mempersiapkan itu,” pungkas Pancar Setiabudi. Tidak adanya interaksi secara langsung, menimbulkan masalah bagi Sekar Arum selaku peserta PESTA 2020. “Kadang kalau memberi informasi di sebuah grup ketimbun sama chat. Jadi, ya kurang efektif aja.”

Baca Juga:  Pidato Pengunduran Diri Rektor UII

 

Meski terdapat banyak kendala yang terbilang baru, pelaksanaan PESTA 2020 ini dinilai sudah cukup berhasil. Menurut M. Rafly Triyadi, acara-acara yang terdapat pada PESTA tahun ini cukup asyik. “Dari sesi pengenalan kampusnya itu sejarah segala macem tuh seru banget sih,” tambah Rafly. Selain itu, acara yang dilaksanakan secara daring ini cukup mudah untuk diatur sehingga tidak ada keterlambatan jadwal. “Untuk live sendiri kita memiliki safety time, yang mana kita ada time keeper ketika live, dan juga untuk video-video yang tapping sudah kita lebihkan waktunya, semisal kita rencana video materi 15 menit ternyata peyampaian dan pengeditan dari pemateri tersebut hanya sekitar 12 menit kaya gitu,” imbuh M. Raditya Adhyaksa.

 

Tim reportase: Anisa Dyah Savitri & Nur Iftitah

Bagikan: