Senja itu, ketika kalender menunjukkan angka tiga belas bulan enam, langit orange menghias langit Yogyakarta sehabis hujan. Burung-burung berterbangan, matahari sudah bersiap-siap untuk tenggelam. Kota Yogya saat itu tidak terlalu padat, entah kenapa. Mungkin karena penduduknya masih terbawa angin malas hujan, atau memang sedang ingin menikmati akhir minggu di rumah bersama keluarga, atau mungkin masih parno akan kehadiran varian virus Covid-19 yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Yang pasti angin berhembus sore ini terasa sangat menenangkan. Di tangan kananku, terdapat sebuah kue tart rasa coklat vanilla yang menggantung di balik paper-bag putih, tak lupa lilin ulang tahun berbentuk angka dua dan nol telah siap untuk dihidupkan nanti malam.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti malam akan berjalan, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menyiapkan apa yang aku bisa lakukan. Nanti malam, ketika jam dinding menunjukkan angka dua belas, akhirnya aku telah genap dua puluh tahun. Tahun yang konon katanya penuh dengan perjuangan, tahun-tahun yang menentukan bagaimana kehidupan kelak akan berjalan. Yang pasti, milyaran harapan yang aku buat menanti untuk tercapai di umurku yang menginjak dua puluh ini.

Malam itu, aku yakin sekali sahabatku akan datang, memberikan kejutan kecil atau merayakan bertambahnya usia salah seorang di antara kami seperti biasanya. Aku menanti-nanti kehadiran mereka meskipun tak ada surat, kabar undang-mengundang yang aku berikan. Aku melirik jam, jam tersebut sudah menunjuk angka sebelas empat puluh lima menit. Seperempat jam lagi sebelum hari berganti, namun tak ada tanda-tanda satupun insan yang hadir. Padahal lilin angka dua dan nol yang seharusnya sudah diletakkan di atas kue tar ini sudah bersiap untuk dihidupkan. Meskipun begitu, tak ada salahnya sembari menunggu lima belas menit lagi, aku menebak kira-kira kejutan apa yang tengah mereka persiapkan bagiku malam ini. Mungkin dibelakang sana mereka sedang menanti tengah malam, kemudian mengetuk pintu memberikan kejutan kecil atau bisa saja tepat ketika tengah malam mereka datang ke flat kecilku, kemudian mengajakku pergi ke tempat yang telah mereka persiapkan.

Namun, jam telah menunjukkan tengah malam, tak ada tanda bahwa mereka hadir. Pukul nol titik nol malam ini, di usiaku yang telah menginjak dua puluh tahun aku merayakan bertambahnya umurku sendirian. Entah kemalangan apa yang menimpa mereka bertiga malam ini hingga tak bisa hadir merayakan tradisi yang biasa kami lakukan. Jangankan selamat ulang tahun, kabar atau pesan saja tak ada satupun yang muncul. Aku menatap kue tart dan lilin yang belum aku letakkan di atasnya. Tanpa mereka, aku tidak bisa menghidupkannya, karena harusnya kami semua lah yang meniup lilin itu, bukan hanya aku.

Esoknya, hari berjalan seperti biasa, tak ada yang spesial. Mungkin seluruh manusia di semesta ini lupa jika aku bertambah umur hari ini. Yang pasti, ini semua terasa menyebalkan. Berkali-kali ku lihat notifikasi di handphone ku, tak ada satupun yang mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, pada tengah hari ada satu panggilan yang masuk ke telepon genggamku yang tak sempat kuangkat. Tiga panggilan dari dosen pembimbingku. Entah untuk apa beliau menelponku di siang bolong seperti ini, jangan-jangan hanya beliau lah satu-satunya manusia yang mengingat hari ulang tahunku dan ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun sebagai belas kasihan karena tidak ada satupun manusia yang mengingat ulang tahunku selain beliau.

“Maaf Bu, sebelumnya ada pesan apa yang ingin ibu sampaikan kepada saya tadi? Maaf Bu, ketika ibu menelpon saya sedang ada kelas daring,” Aku tak menelepon. Kuputuskan hanya mengirim pesan karena aku khawatir mengganggu waktu istirahat makan siang beliau.

Tak sampai 2 menit, dosenku menjawab pesan yang aku kirim tadi, “Selamat, Tessa! Tadi ibu dapat kabar bahwasanya kamu salah satu mahasiswa yang diterima beasiswa IISMA tahun ini,”

Aku terkejut bukan main. Memang, bukan ini selamat yang kuharapkan dari tadi malam. Namun yang pasti, ucapan selamat kali ini lebih membuatku bahagia. Beasiswa ini aku harapkan sejak dari aku masuk universitas, mencicipi rasanya menuntut ilmu di negeri orang termasuk satu cita-citaku yang sejak dahulu aku dambakan. Tak sampai satu jam, berita tentang aku yang diterima beasiswa IISMA tersebar hingga seantero universitas. Namun, di antara banyaknya ucapan selamat yang aku dapatkan, tak ada satupun ucapan yang aku terima dari sahabatku, kemana mereka semua dari kemarin?

Entah kali keberapa aku menelpon mereka dari pagi tadi. Aku penasaran kejutan apa yang mereka persiapkan hingga menghilang seperti ini dari kemarin. Sore itu, kuputuskan mendatangi flat Raisa, karena biasanya flat dialah yang biasa kami jadikan tempat berkumpul bersama. Namun aneh, flatnya kosong dan gelap, benar-benar seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Aku bertanya kepada salah satu tetangganya. Aneh, mata tetangga itu tampak sembab dan mukanya lesu, sambil menangis ia mengatakan bahwa Raisa dan teman-temannya kecelakaan ketika mereka bertiga pergi menuju flat-ku tadi malam. Sore ini dia memutuskan untuk kembali, membawakan kebutuhan mereka bertiga di rumah sakit.

Sontak tangisku meledak. Sore itu juga, aku dibawa ke rumah sakit tempat mereka dan lihat mereka sekarang, tangan dan kaki mereka tak luput dari perban putih. Namun tunggu, dimana Feni? Di hadapanku sekarang hanya Raisa dan Tasya yang terbaring. Aku bertanya kepada salah seorang dokter yang berjaga dimana Feni saat ini. Dokter itu memegang pundakku, ia berkata jika Feni sudah berputih tulang. Untuk yang kesekian kalinya aku menangis, tak bisa kubayangkan bagaimana hidupku berjalan jika tanpa mereka.

Malam itu juga Feni dikuburkan. Tentu saja prosesi pemakamannya tanpa dihadiri dua sahabatku lainnya, Tasya dan Raisa. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jika mereka berdua tahu tentang kabar kematian Feni.  Aku memutuskan untuk menjaga mereka hingga pulih, kemudian memberi tahu baik-baik bahwa salah satu dari kami telah pergi lebih awal.

….

Aku menatap kue tart dan lilin di hadapanku. Hari ulang tahun, bukankah hari itu seharusnya digunakan untuk memperingati bertambahnya umur salah seorang dari kami, namun sangat ironis menjadi prosesi hilangnya waktu salah seorang di antara kami. Dari sini aku sadar, makna ulang tahun yang sebenarnya. Ulang tahun seharusnya bukanlah peringatan umur yang bertambah, namun sejatinya merayakan kesempatan hidup yang berkurang.

Aku terdiam, menatap kue tart dan lilin angka dua dan nol di hadapanku ini sekali lagi. Mulai hari ini tak ada lagi prosesi ulang tahun seperti biasanya. Tiup lilin, ataupun perayaan besar, tak ada. Perayaan tersebut seharusnya diisi dengan sesuatu yang lebih bijak. Mungkin aku bisa memberikan sedikit dari harta yang aku punya untuk anak yang kurang mampu atau berkunjung ke panti asuhan dan memberikan bantuan kepada mereka, sebagai bentuk rasa syukur atas umur berkah yang masih diberi Allah kepadaku.

Lilin angka dua dan nol itu takkan pernah aku hidupkan lagi, aku simpan dengan baik. Lilin itu merupakan lilin terakhir dan esok lusa, aku akan ganti lilin itu dengan sesuatu yang lebih baik.

Editor: Alyanada Solekah

Bagikan: