Pada 14 Ramadan 1443 hijriah atau tepatnya pada Sabtu (16/4), Himpunan Mahasiswa Islam Fakultas Teknologi Industri (HMI FTI) menggelar acara kajian ramadan dengan judul “ Mengenal Tauhid dan Problematika Keumatan” bersama Dr.Drs. Rohidin, S.H.,M.Ag. secara virtual dengan media zoom.

Diawal, Rohidin mengemukakan bahwa tauhid merupakan persoalan yang sangat urgent dan mempelajari ilmu tauhid sangat penting bagi umat islam. Sebab Tauhid merupakan suatu sistem keyakinan yang mengajarkan bahwa Allah adalah zat yang maha Esa.

Kajian ilmu tauhid bersifat metafisis, dan sesuatu yang bersifat metafisis akan sulit dipahami dengan baik, jika tanpa ada ikhtiar sekuat mungkin untuk memahami konsep-konsep tauhid, diperlukan analisa yang mendalam, dan teori-teori pendukung. Maka umumnya, kajian-kajian metafisis bersifat filosofis.

Berbicara keyakinan, dari zaman yunani sampai saat ini, keyakinan merupakan topik yang hangat untuk dibicarakan. Mengapa keyakinan menjadi sesuatu yang urgent , menarik, dan aktual? Sebab keyakinan adalah kebutuhan asasi manusia untuk membangun peradaban. Tanpa keyakinan, peradaban manusia akan hancur” jawab Rohidin.

Maka persoalan agama adalah suatu kebebasan, freedom of religion, tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, dan akan selalu diperjuangkan.

Dalam kenyataannya, sangat banyak sekali ragam keyakinan yang ada di dunia ini sedangkan kebenaran atas keyakinan tersebut hanyalah satu, karena keyakinan menyangkut kausaprimasebab dari segala sebabsehingga tidak boleh beragam dan harus tunggal. Manusiapun tidak boleh beranggapan bahwa semua keyakinan itu benar. Keyakinan haruslah bersumber dari kebenaran itu sendiri.

Lalu siapa pemilik kebenaran itu ?

Kemudian orang mencari jalannya sendiri-sendiri untuk sampai kepada kausaprima.

Maka dalam sejarahnya, orang menganut sistem kepercayaan dengan berbagai cara diantaranya; positivistik, doktrin literal positivistik adalah memahami realitas itu sebagai sesuatu yang teramati dengan baik.

Hakekatnya realita itu dapat diukur, diamati, diobservasi, itulah yang berlaku sains. Oleh karena itu, cara-cara tersebut tidak mungkin bisa sempurna untuk memahami kausaprima sebab metode yang dibuat oleh manusia itu sangat terbatas dan hanya mampu menangkap sesuatu yang sifatnya fenomanologi. Sedangkan doktrin literal merupakan dogmatik. Orang tidak perlu membangun wacana, mendiskusikan, memikirkan tentang hal-hal yang sifatnya keyakinan. Keyakinan adalah barang yang sudah jadi, dari nenek moyang terdahulu dan tidak perlu dipertanyakan benar atau tidak. Sehingga cara tersebut mengingkari penciptaan akal manusia.

“Islam menawarkan sistem tauhid. Di satu sisi tauhid mengajarkan sistem doktrinal literal tetapi disisi lain menghargai cara-cara positivistik untuk menggunakan akal untuk memikirkan dogmatik tadi. Tauhid berbeda dengan cara positivistik dan doktrin literal” lanjut Rohidin.

Di dalam sistem tauhid di konsepsikan bahwa Allah adalah zat yang Maha Esa. Mentauhidkan Allah adalah mempercayai Allah sebagai satu-satunya zat yang merawat dan mengendalikan alam semesta. Pun demikian Allah lah satu-satunya yang wajib disembah.

Manusia kalau sudah diuji dengan keadaan yang sulit diluar jangkauan dirinya maka manusia akan meminta bantuan kepada zat yang maha kuasa, karena didiri manusia terdapat ketergantungan terhadap yang hanif dalam mencari kausaprima. Itulah fitrah manusia tutupnya.

Editor: Roaida Yanti

Baca Juga:  Bakti Sosial HMTI 2016

Bagikan: